Selasa, 30 Desember 2014

Hasrat-hasrat dalam Qalb/ hati | Syekh Abdul Qadir al-Jailani


Kalbu atau hati manusia dipenuhi dengan enam hasrat yang senantiasa bergejolak. Hasrat-hasrat itu antara lain, hasrat nafsu diri (khathir an-nafs), hasrat setan (khathir asy-syaithan), hasrat ruh (khathir ar-ruh), hasrat malaikat (khathir al-malak), hasrat akal (khathir al-‘aql), dan hasrat keyakinan (khathir al-yaqin).

Hasrat nafsu diri membujuk manusia untuk melakukan segala tuntutan syahwat, kesenangan diri, baik yang mubah maupun yang haram. Sementara hasrat setan mendorongnya untuk membumikan kekafiran dan kemusyrikan, sikap mengadu (tidak puas), dan menuding Allah telah melanggar janji-Nya sendiri. Ia juga membujuk melakukan berbagai perbuatan maksiat, menunda-nunda taubat, dan hal-hal yang dapat membinasakan diri, baik di dunia maupun di akhirat. Kedua hasrat ini bersifat tercela dan buruk, serta menyerang setiap kaum awam.

Sedang hasrat ruh dan hasrat malaikat adalah dua hasrat yang senantiasa mendorong manusia kepada kebenaran dan kepatuhan kepada Allah, serta hal-hal yang berbuah keselamatan dan di akhirat. Sayangnya dua hasrat terpuji ini hanya dimiliki oleh sebagian kecil kalangan umat (khawwash an-nas).

Hasrat lainnya adalah hasrat akal. Ia hasrat yang tidak tetap. Terkadang bekerja seperti hasrat hawa nafsu dan hasrat setan, dan terkadang bermain seperti hasrat ruh dan hasrat malaikat. Hal itu merupakan bukti hikmah kebijaksanaan Allah dan keakuratan penciptaan-Nya, agar hamba masuk ke dalam ranah kebaikan dan keburukan dengan pertimbangan logis dan kemampuan membedakan baik-buruk, sehingga positif-negatif akibatnya sepenuhnya terpulang kepadanya, sebab Allah Azza wa Jalla telah menjadikan jasad sebagai tempat berlakunya hukum-hukum-Nya dan eksekusi kehendak-Nya dalam bingkai hikmah-Nya.

Allah menjadikan akal sebagai alat kebaikan atau keburukan, sekaligus alat pemanen hasil antara kenikmatan yang lezat atau siksa yang pedih.

Yang terakhir adalah hasrat keyakinan. Hasrat keyakinan merupakan ruh keimanan dan muara ilmu yang datang dan bersumber dari Allah. Hasrat ini hanya dimiliki kaum khawwash dari kalangan wali yang mencapai taraf al-muqinun ash-shiddiqin, asy-syuhada’, dan abdal. hasrat ini senantiasa menghadirkan kebenaran semata. Akan tetapi, sebab saking rumit dan samar, hasrat ini hanya bisa dimiliki mereka diri yang dikaruniai ilmu ladunni, kabar-kabar gaib, serta pengetahuan tentang rahasia segala sesuatu yang merupakan pengetahuan-pengetahuan khusus orang-orang yang dicintai, dikehendaki, dan dipilih Allah yang menghilangkan kedirian dan zahir mereka, dan memfanakan diri dengan Allah di dalam-Nya.

Ibadah lahiriah mereka telah berubah menjadi ibadah-ibadah batiniah, kecuali amalan-amalan fardhu dan sunnah muakkad. Mereka selalu awas dan waspada (muraqabah) terhadap gerak batin mereka, sementara urusan lahiriah mereka ditangani langsung oleh Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firman-Nya : Sesungguhnya pelindungku ialah yang telah menurunkan Al-Kitab dan Dia melindungi orang-orang shalih (QS Al-A’raf [7]:196). Allah melindungi mereka, menyibukkan hati mereka dengan pelajaran akan rahasia-rahasia gaib dan meneranginya dengan tajalli. Allah memilih mereka untuk diajak berbincang-bincang dengan-Nya, merasakan keintiman dengan-Nya, tenang bersama-Nya, dan tenteram di sisi-Nya.

Setiap hari mereka pun memperoleh tambahan ilmu, perkembangan pengetahuan, kecukupan cahaya, dan kedekatan khusus dengan Dzat yang mereka cintai dan mereka sembah, sehingga mereka benar-benar dalam suasana kenikmatan yang tiada habis-habisnya dan putus-putusnya, kebahagiaan yang tiada ujung dan akhir.

Kehidupan dunia bagi mereka adalah surga. Sementara di akhirat mereka juga akan menemukan keindahan tak terkirakan, diizinkan memandang Dzat Allah yang Mahamulia dengan tanpa hijab penghalang, pintu, penjaga, pengawal, tanpa palang dan rintangan, tanpa kesusahan dan kemudaratan, tiada henti dan tiada habis-habisnya.

Demikianlah balasan mereka yang dicintai Allah : Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai; di tempat yang disenangi di sisi Tuhan yang berkuasa (QS. Al-Qamar [54]:54-55).

Bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahala terbaik (surga) dan tambahannya (QS Yunus [10]:26).

Mereka yang berbuat baik di dunia dengan patuh dan tunduk kepada-Nya, di akhirat akan dibalas Allah dengan surga dan kemuliaan, serta senantiasa dilimpahi kenikmatan dan keselamatan. Mereka itulah pribadi yang sepanjang hidupnya menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh serta selalu setia menuju Allah, dengan menyucikan hati dan meninggalkan perbuatan selain untuk Allah. Maka, Allah memberi mereka banyak pahala di akhirat, dengan kenikmatan abadi : diizinkan memandang Wajah-Nya Yang Maha Indah dan Maha Kasih.

Sumber : Tafsir Al-Jailani, Menyelami Kisah dan Makna Ta’awwudz, Basmalah, Tobat, dan Takwa (dari : Majalis fi Mawa’izh al-Qur’an wa al-Alfazh al-Nubuwwah; Syekh Abdul Qadir al-Jailani).[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar